Demi masa, , ,

Makam Sunan Kalijaga

Makam Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak.

Riwayat silsilah Sunan Kalijaga

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Menurut majalah Gatra (2001: 66-67) Sunan Kalijaga lahir sekitar tahun 1430-an, Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak tahun 1478 -1546, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1560 – 1580, serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Sebenarnya ada tiga versi mengenai riwayat Sunan Kalijaga yaitu,  versi Arab, versi Cina dan Versi Jawa. Namun karena referensi yang banyak beredar di masyarakat kita adalah versi Jawa, maka versi inilah yang kita bahas. Menurut Versi jawa, nenek moyang Sunan Kalijogo adalah Ario Adikara atau yang lebih di kenal dengan nama Ronggolawe putera dari Ario Wiraraja, putera dari Adipati Ponorogo yang pada masa pemerintahan Prabhu Kertanegara (raja terakhir Singasari) pernah menjabat sebagai menteri luar negeri.

Setelah Singasari di hancurkan oleh Kerajaan Kediri dan Prabhu kertanegara gugur, Ario Wiraraja berhasil menyelamatkan Raden Wijaya yang merupakan panglima perang sekaligus menantu dari Prabhu Kertanegara, setelah Raden Wijaya berhasil membangun kerajaan baru yang dinamakan Majahapahit, Ario Wiraraja di tunjuk sebagai menteri luar negeri dan adipati Tuban dan di tempatkan di Tuban yang merupakan kota pelabuhan terbesar di Nusantara waktu itu. Kemudian keturunan Ario Wiraraja yang bernama Ronggolawe (bergelar Hario Tejo I) dan keturunannya pun secara turun – temurun menjabat posisi sebagai adipati Tuban, antara lain : Hario Tejo II, Hario Tejo III dan Raden Sahur yang bergelar Tumenggung Wilwatikta. Tumenggung Wilwatikta inilah orang tua dari Raden Mas Sahid atau lebih dikenal Sunan Kalojogo.

versi lain adalah menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta. Sejarawan lain seperti De Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I (‘Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad. Sunan Kalijaga mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.

Pernikahan Sunan Kalijaga

Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Tapi dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Sunan kalijaga mempunyai dua orang istri yaitu Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, yang kedua bernama Dewi Sarokah / Siti Zainab binti Sunan Gunung Jati (mempunyai 5 anak antara lain : Kanjeng ratu pembayun istri dari sultan trenggono, Nyai Ageng Panenggak istri dari kyai Pakar, Sunan Hadi, Raden Abdurrahman dan Nyi Ageng Ngerang.

Da’wah Sunan Kalijaga

Menurut cerita, Sebelum menjadi Walisongo, Raden Said menjadi seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi. Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin.Suatu hari,Saat Raden Said ke hutan,ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat.Orang itu adalah Sunan Bonang. Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu. Katanya,hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin.Tetapi, Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu,Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha,maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Karena itu,Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang.Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai.Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tep sungai. Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama.Karena lamanya ia tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian,Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said.Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai,maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu (“Petruk Jadi Raja”). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang

Karya tulis Sunan Kalijaga

Ada dua karya tulis dari Sunan Kalijaga yang terkenal di masyarakat yaitu Serat Dewaruci dan suluk linglung. Sekilas kedua karya tulis itu seperti sama tetapi sebenarnya sangat berbeda. Serat Dewaruci isinya tidak menyinggung ajaran syariat islam, sedangkan di dalam suluk linglung Sunan Kalijaga sangat menekankan pentingnya orang islam menjalankan syariat islam seperti shalat dan puasa romadhon seperti yang di contohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Serat Dewaruci di tulis lebih dahulu ketika beliau masih muda, sedangkan suluk linglung di tulis kemudian.

 Wafat Sunan Kalijaga

Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: