Demi masa, , ,

Mansoor Al Hallaj

Mansoor Al Hallaj

Nama lengkapnya adalah Abdul Muqith Al-Husain Bin Mansur Al-Hallaj, beliau lahir di Baidha (Persia), pada tahun 244 H, dan meninggal di Baghdad pada 309H. Beliau meninggal karena di jatuhi hukuman mati  oleh pemerintahan dinasti Abbasyah, karena ajaran tasawufnya di anggap menyimpang dari hukum syar’i dan dapat mengganggu ketentraman masyarakat. Pendapatnya yang dianggap menyimpang adalah, Allah menjelmakan dirinya pada pribadi nabi Muhamad, semua agama yang ada di dunia ini adalah agama Allah dan seseorang yang bersih hatinya tentu dapat melaksanakan haji batin.

Ungkapan kontroversial dari Al-Hallaj
 Akulah Tuhan (Ana’l Haqq)

Dalam Islam Tuhan hanya ada satu yaitu Allah, tidak ada tuhan kecuali Allah, dan tidak ada yang patut di sembah selain Allah, La illaha illalah muhamadar rasulullah, tiada tuhan kecuali Allah dan Muhamad utusan Allah, konsep yang sudah jelas dan merupakan Syahadat di dalam islam.

Tetapi Al-Hallaj berteriak Ana’l Haq, dia mengatakan bahwa dirinya adalah tuhan, di dalam Alquran ada empat surat yang menyebutkan kalimat Al Haqq yaitu surat Thaha ayat 114, Al Hajj ayat 6 dan 62, dan Al Mu’minun ayat 116. Arti kata Al Haqq sendiri adalah kebenaran, merupakan salah satu nama dalam Asma’ul Husna, dan hanya Allah SWT saja yang berhak menyandang nama tersebut.

Perbuatan Al Hallaj terang saja membuat banyak orang tercengang betapa tidak seorang ulama yang terkenal alim tiba-tiba saja mengucapkan kata-kata yang sangat berbahaya sangat tidak patut, banyak orang menjadi khawatir akan keselamatan jiwanya, termasuk sang guru Imam Junaidi Al Baghdadi yang berkali kali menyuruhnya agar menahan diri tapi sia-sia.

Kabar mengenai ucapan Al Hallaj dengan cepat tersebar ke seluruh pelosok negeri dan memancing perdebatan para ahli, ada yang mendukungnya dan banyak pula yang mengecam.

Pandangan Ulama Fiqh tentang Al Hallaj

Dalam memutuskan suatu masalah hukum ulama fiqh berpedoman kepada Alquran sebagai sumber utama, Hadits nabi, Ijma dan Qiyas (jika persoalan tersebut tidak terdapat dalam Alquran/ hadits).

Salah satu ulama fiqh yang menentang keras adalah Ibnu Daud Isfahani, yang hidup semasa dengan Al-Hallaj, yang bermadzhab Dzahiri, menurut nya Al Hallaj telah murtad, dan menyimpang dari ajaran islam yang murni, baginya perkataan Anal Haqq adalah bukti bahwa Al Hallaj telah melangar Syariat.

Pandangan para ulama Tasawuf terhadap Al Hallaj

Para ulama tasawuf sangat berbeda dalam memahami persoalan dengan ulama fiqh meskipun sama-sama berpedoman pada Alquran dan hadits, jika ulama fiqh cenderung memahami persoalan secara tersurat, maka ulama tasawuf lebih mementingkan makna yang tersirat, misal, ketika memahani ayat  “janganlah mendekati shalat jika kamu dalam keadaan mabuk”, ulama fiqh memahami nya dengan mabuk minuman keras, tapi ulama tasawuf memahaminya lebih jauh lagi, mabuk harta, mabuk jabatan dsb.

Diantara ulama tasawuf yang hidup sejaman dengan Al Hallaj adalah Al-Baghdadi (guru Al Hallaj), Abu Bakar As sibli dan Al Wasithi (keduanya sahabat Al Hallaj). Mereka berpendapat bahwa A l Hallaj  tetap seorang muslim, menurut mereka ucapan Ana’l Haqq bukanlah kata-kata biasa akan tetapi merupakan kata –kata mistis yang timbul karena rasa cinta yang sangat mendalam kepada Tuhan.

Pandangan Penguasa terhadap Al Hallaj

Al Hallaj hidup pada masa pemerintahan Muqtaddir Billah dari dinasti Abbasyah, ketika itu usia Muqtadir masih sangat muda sehingga belum mempunyai kapasitas yang bagus dalam memutuskan hal – hal yang besar, sedangkan perdana menterinya Hamid Bin Abbas di pandang kurang layak menduduki jabatan penting tersebut.Pada masa itu pihak penguasa kerajaan menganut paham Ahlus sunah wal jama’ah, sedangkan sebagian besar rakyat menganut paham Syi’ah, sehingga antara keduanya sering berseberangan.

Para pejabat banyak yang hidup mewah, di saat inilah Al Hallaj muncul, dengan kehiduoan yang sederhana, rakyat yang sudah antipatai terhadap penguasa dan para ulama, menjadi simpati terhadapnya, hal ini membuat beberapa ulama dan pejabat mencurigainya sebagai penghasut karena dekat dengan oposisi Syi’ah,, akan tetapi mereka tidak punya alasan yang cukup kuat untuk mengkapnya.

Namun ketika ucapan Al Hallaj yang controversial sampai ke telinga penguasa Al Hallaj di tuduh sesat dan di jebloskan ke penjara pada 910 M. dia sempat melarikan diri denganbantuan sipir penjara dan bersemnbunyi selama empat tahun di kota Sus, sebelum akhirnya di tangkap kembali pada 913M, pada 921M Al Hallaj di ajukan ke persidangan dan dalam persidangan tersebut menghasilkan Fatwa Al Hallaj murtad, sebelum menjatuhkan hukuman mati Khalifah Muqtada sempat berkirim surat ke guru Al Hallaj imam Junaidi Al Baghdadi, sebanyak enam kali surat di kembalikan tanpa ada keputusan apapun dari Imam Al Baghdadi, hingga pada surat yang ke tujuh Khalifah berkirim surat dengan permintaan khusus untuk menjawab “ya” atau “tidak”.

Mengangapi hal ini imam menanggalkan jubah kebesaran kaum sufi dan memakai jubah kebesaran ulama, dan menjawab “ menurut hukum syari’at Al Hallaj dapat di jatuhi hukuman mati, akan tetapi menurut ajaran kebenaran, Allah maha tahu.

Al Hallaj dijatuhi hukuman mati pada tanggal 18 Dzulq’idah 309 H atau 921 M, dengan di saksikan oleh para sahabatnya.

Pendapat para ulama sesudahnya terhadap Al Hallaj

Para ulama sesudahnya mempunyai pandangan yang berbeda mengenai Al hallaj ada yang mendukung dan ada pula yang memberatkan, sesuai dengan ilmu dan pengalamannya sendiri. Menurut Ibnu Taimiyah, ulama yang hidup pada abad ke 7 H. Al Hallaj pantas di hukum mati karena telah menyimpang dari Syari’at, begitu pula pendapat Ibnu Qayyim Al Jauzi, murid Ibnu Taimiyah. Lain halnya dengan Ibnu Syuraih, ulama fiqh dari madzab Maliki ini tak mau menghakimi, alasannya adalah “pengetahuanku tidak mendalam tentang dirinya, karena itu saya tidak dapat berkata apa-apa”.

Berbeda dengan Al-Ghazali, jalaludin Rumi, Fariduddin Aththar, Abdul Qadir jaelani dan Ad Damiri. Ulama ulama besar ini membela La Hallaj dan membersihkannya dari tuduhan murtad.

Pandangan Al-Ghazali terhadap Al Hallaj cukup bijak, sebagai seorang sufi dia cukup mengerti  apa yang sebenarnya terjadi. Menurutnya mengaku sebagai tuhan memang bisa menyebabkan murtad jika di ucapkan dalam keadaan sadar, akan tetapi ketika itu Al Hallaj sedang dalam keadaan mabuk, yaitu mabuk cinta kepada Tuhan, hatinya terbakar api asmara yang berkobar – kobar karena rasa cintanya yang besar tersebut, dan karena cinta yang sudah sangat mendalam maka sudah tidak dapat lagi dipisahkan antara diri dengan yang dicintai.

Menurut fiqh orang mabuk tidak dapat di hukum dengan kata lain dia harus di bebaskan dari tuduhan murtad. Apalagi menurut tasawuf kata Ana’l Haqq yang di ucapkan Al Hallaj tidak bisa difahami secara sepintas dan secara harafiah, kata-kata tersebut hanya dapat di pahami oleh kaum sufi dengan Dzauq, cita rasa ruhani  sebagai satu-satunya alat mencapai kebenaran hakiki.

Pendapat Jalaludin Rumi hampir mirip dengan Al Ghazali, Faridudin Attar bahkan memberi gelar Al Hallaj “Syahidul Haq (Syahid karena kebenaran), Syaikh Al-Jaelani ketika di Tanya tentang Al Hallaj beliau menjawab, “Andaikan aku sudah hidup pada masanya, sudilah kiranya aku menjadi pengiringnya”. Ad Damiri mengatakan, “Bukanlah hal yang mudah menuduh seorang mulim keluar dari agamanya, kalau perkataannya masih bisa di takwilkan (di artikan lain), lebih baik di artikan lain, karena mengeluarkan seorang dari islam adalah perkara besar, dan tergesa-gesa menjatuhkan hukuman adalah perbuatan jahil”.

Wallahu’alam bi-ash-shawab.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: