Demi masa, , ,

Posts tagged ‘Maulana Ishaq’

Syekh Maulana Ishaq

Berbeda dengan kisah Maulana Malik Ibrahim yang tidak mengandung unsur mistis, kisah Maulana Ishaq terdapat kisah mistis yang spektakuler, dan tidak sesuai dengan kaidah ajaran islam, kemungkinan kisah ini muncul karena menikah dengan seorang bangsawan Jawa.

Menjadi menantu raja blambangan

Pada watu itu kerajaan Blambangan di perintah oleh raja Prabu Menak Sembuyu sedang di serang wabah penyakit, salah satu korban nya adalah sang putrid Dewi Sekardadu, karena tidak ada ahli pengobatan di Blambangan yang berhasil menyembuhkan, meskipun telah di adakan sayembara tetap saja penyakit sang putrid tidak dapat di sembuhkan.

Kemudian atas usul seorang Brahmana bernama Resi Khandabaya, Prabu Menak Semboyo memerintahkan patih bajul senggoro untuk menemui seorang pertapa  yang bermukim di sebuah gunung dekat kota Gresik yang bernama Maulana Ishaq, setelah bertemu Patih Bajul Senggoro meminta bantuan Maulana Ishaq untuk mengobati Dewi Sekarddadu, Maulana Ishaq menyaggupi permintaan tersebut dan menyuruh Bajul Senggoro  pulang lebih dahulu ke Blambangan,  apabila bajul senggoro dan seluruh pasukannya butuh waktu lebih dari satu minggu untuk menempuh perjalann, sebaliknya Maulana Ishaq hanya butuh waktu sebentar saja untuk sampai di Blambangan, setelah tiba beliau langsung mengobati penyakit Dewi Sekardadu dan menghilangkan wabah penyakit, setelah itu beliau kemudian dinikahkan dengan Dewi Sekardadu dengan pesta selama satu minggu tanpa persiapan sedikitpun sebelumnya. Ketika Bajul Senggoro tiba di istana, dia terheran – heran dengan semua keramaian yang ada di istana, setelah di jelaskan oleh beberap punggawa istana dia barulah paham bahawa wabah penyakit telah lenyap dan adanya pesta pernikahan agung selama satu minggu.

Meninggalkan Blambangan

Setelah menikah, Maulana Ishaq tinggal di sebuah rumah dekat istana dengan istrinya Dewi Sekardadu, lalu membangun pesantren, berkat keberhasilannya mengobati wabah penyakit, banyak orang – orang yang datang meminta pengobatan,  ini kemudian di manfaatkan oleh Maulana Ishaq untuk sekalian menyebarkan ajaran islam, dalam waktu singkat banyak rakyat Blambangan yang masuk islam, melihat kenyataan ini Prabu Menak Sembuyu dan Patih Bajul Sengoro menjadi tidak senang, Menak Sembuyu memerintahkan patihnya untuk menyerang Maulana Ishaq.

Pada waktu di serang, Maulana Ishaq tidak melawan, di bersedia pergi asalkan tidak di lakukan kekerasan terhadap masyarakat, permintaan tersebut di setujui oleh Bajul Senggoro, tetapi orang orang yang sudah terlanjur masuk islam menemui Maulana Ishaq dan menanyakan nasib mereka kelak jika di tinggal sang guru karena pengetahuan islam mereka belum seberapa, Maulana ishaq berkata bahwa kelak mereka akan di bimbing oleh putra nya yang sekarang sedang di kandung oleh Dewi sekardadu, lalu Maulana Ishaq pergi ke tempat pertapaannya dekat Gresik.

Dalam kelanjutannya setelah Dewi Sekardadu melahirkan bayi hasil pernikahan dengan Maulana Ishaq, atas hasutan Bajul Senggoro bayi itu di buang ke laut setelah terlebih dahulu di masukkan ke dalam peti kayu. Namun kemudian bayi itu ditemukan oleh rombongan dagang pimpinan Abu Hurairah (orang kepercayaan Nyai Pinateh Saudagar dari Gresik). Bayi itu di bawa pulang ke Gresik dan diangkat menjadi anak oleh Nyai Ageng pinateh yang kemudian di beri nama Joko Samudra,  kelak di kenal sebagai Suanan Giri.

Maulana Ishaq adalah anak dari Syekh Jumadil Qubro.

Syekh Jumadil Qubro memiliki dua anak, yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Maulana Ishaq, yang bersama-sama dengannya datang ke pulau Jawa. Syekh Jumadil Qubro kemudian tetap di Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, dan adiknya Maulana Ishaq mengislamkan Samudera Pasai.

Syekh Jumadil Qubro bukan keturunan Jawa, melainkan berasal dari Asia Tengah. Syekh Jumadil Qubro dan kedua anaknya, yaitu Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq lahir di Samarkand, Uzbekistan. Mereka masih kerabat dekat LAKSAMANA Cheng Ho.

Beberapa versi babad yang meyakini bahwa Syekh Jumadil Qubro adalah keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, yaitu cucu Nabi Muhammad SAW.

Petilasan

Petilasan-(maqam)-nya dilaporkan ada di beberapa tempat, yaitu di Semarang, Trowulan, dan di Desa Turgo (dekat Plawangan), Kecamatan Turi, Yogyakarta. Namun demikian, tidak diketahui di mana ia dimakamkan.

Syiar Islam

Pada awalnya, Syekh Jumadil Qubro dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq, datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah; Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, di sebelah selatan Vietnam, yang kemudian mengislamkan Kerajaan Campa, sementara adiknya Maulana Ishaq pergi ke Aceh dan mengislamkan Samudra Pasai.

Turunan

Bila demikian, beberapa Walisongo, yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya. Sunan Bonang, dan Sunan Drajad adalah buyutnya. Sunan Kudus adalah canggahnya. Jadi bisa dikatakan bahwa para Walisongo merupakan keturunan etnis Uzbek.

Hubungan dengan Laksamana Cheng Ho

Menurut catatan di Goa Batu Semarang, tujuh dari sembilan para Walisongo adalah keluarga dan rekan Panglima Cheng Ho yang juga berasal Xinjiang / Xin Kiang, sekarang berada di wilayah Tiongkok

%d bloggers like this: