Demi masa, , ,

Posts tagged ‘Rabi’ah’

Kisah Sufi Wanita Rabi’ah Al Adawiyah

Rabiah Al adawiyah

Rabi’ah Al Adawiyah

Riwayat Hidup RABI’AH AL ADAWIYAH

Rabi’ah lahir pada tahun ±714 M (95 atau 99 H) [ Tim penulis IAIN Syarif Hidayatullah, ”RABI’AH AL ADAWIYAH” Ensiklopedia Islam Indonesia. ] di Basrah Irak. Terlahir dari keluarga miskin ayah nya bernama Ismail, akan tetapi keluarga tersebut selalu hidup penuh dengan ketaqwaan dan iman kepada ALLAH. Abdul Mun’im Qandi menceritakan tentang kondisi kemiskinan keluarga Rabi’ah dalam penggalan cerita berikut;

“Ketika Rabi’ah baru lahir Istri Ismail meminta kepadanya untuk meminta kepada tetangga setes minyak atau sepotong kain untuk selimut anak meraka yang baru lahir,akan tetapi tak seorang tetanggapun yang mau memberikan pertolongan kepada mereka, Ismail pun menghibur istrinya “Istriku, tetangga kita sedang tidur nyenyak, bersyukurlah kepada ALLAH karena selama hayat kita belum pernah meminta – minta. Lebih baik selimuti saja anak kita dengan sepotong kain yang masih basah itu, percaya dan tawakallah kepada ALLAH, tentu Dia akan memberikan jalan keluar yang terbaik buat kita,Dan hanya Dialah yang memelihara dan memberikan kecukupan pada kita, percayalah wahai istriku tercinta.”[ Abdul Mun’im Qandil, Figur Wanita Suffi, TErj M Royhan dan M, Sofyan A (Eds Bhs Indonesia).]

Rabi’ah tumbuh menjadi sosok pribadi muslimah yang Saleh dan sangat zuhud dia pernah menjadi budak dan mengerjakan berbagai pekerjaan berat, akan tetapi itu sama sekali tidak mempengaruhi kadar keimannya hingga suatu malam terjadilah peristiwa yang sangat ajaib, ketika itu Rabi’ah sedang bersujud dan memanjatkan Doa, ketika dia sedang memanjatkan Do’a tuannya mendengarkan DO’a tersebut hatinya menjadi tersentuh dan ke’esokan harinya dia memanggil Rabi’ah dan membebaskannya. Setelah bebas Rabi’ah mencari  nafkah dengan bernyanyi dan bermain seruling, akan tetapi di Basrah saat itu sedang hangat-hangatnya pembahasan masalah mengenai boleh tidaknya bagi wanita untuk bernyanyi dan bermain musik, ada ulama yang memperbolehkan dan ada yang tidak, hal ini  membuat nya ragu, di tengah keraguan inilah ALAH memberikan petunjuk kepadanya bahwa kebiasaan bernyanyi dan bermain seruling bisa membawa manfaat, Rabi’ah pun memutuskan untuk bermain seruling dan bernyanyi di majelis – majelis dakwah, dan dari Majelis dakwah dan Dzikir itulah Rabi’ah banyak belajar dari guru dan ulama.

Berbagai sumber mengatakan bahwa Rabi’ah al adawiyah wafat pada tahun 185 H (801M). sedangkan makamnya tidak diketahui secara pasti, Ada yang menyebutkan ia dikuburkan Di  Al-Quds di sebuah bukit, tetapi sumber yang lebih kuat menyebutka bahwa Rabi’ah wafat di Basrah, daerah Syam.

Sebelum wafat dia sempat berpesan kepada pengikutnya sekaligus sahabatnya Abdah binti Abu Shawwal, agar kematiannya janganlah sampai menyusahkan orang lain, dan agar membungkus mayatnya dengan jubahnya[ Muhammad Atiyah Khamis.]

Advertisements
%d bloggers like this: