Demi masa, , ,

Posts tagged ‘Suluk Linglung’

Kitab suluk linglung dan dewa ruci warisan Sunan Kalijaga

Karya tulis warisan Sunan Kalijaga

Dewasa ini ada dua buah kitab peninggalan sunan Kalijaga yang sangat di kenal di masarakat yaitu serat Dewa Ruci dan suluk linglung, dimana dua kitab ini seperti mempunyai kandunagn yang sama tetapi sebenranya isinya berbeda, di dalam serat dewaruci tidak di singgung masalah syariat sedangkan suluk linglung menganjurkan untuk menjalankan syariat islam secara benar.

Perbedaan ini kandungan ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan pandangan Sunan Kalijaga sendiri terhadap islam, dimana ketika masih muda saat menjadi pendamping dan penasihat Sultan Trenggono (sultan Demak) sunan Kalijaga mempunyai kecenderungan terhadap ajaran Manunggaling kawulo gusti dari syekh Siti Jenar. Akan tetapi di masa – masa mendekati akhir hayatnya beliau akhirnya menyadari kebenaran dari ajaran Nabi Muhamad SAW dan kembali ke ajaran islam murni.

Kandungan Serat Dewa Ruci

Serat Dewa Ruci menceritakan salah satu lakon pewayangan yaitu Bima yang melakukan perjalanan untuk mencari air suci perwita sari kayugung susuhing angin (air suci perwita sari, kayu besar sarang nafsu). air suci ini diperlukan untuk di persembahakan ke pada gurunya, yaitu Pandita Durna, sebagai syarat agar sang guru mau memberikan wejangan tentang ngelmu jatining jejering pangeran.

Dalam cerita ini Bima di gambarkan sebagai sebagai seorang ahli tarekat yang melakukan perjalan untuk mencapai tarekat dan menghadapi godaan batin berupa nafsu dari dalam diri sendiri

Empat jenis hawa nafsu menurut Serat Dewaruci

Nafsu Lawwamah : Di personifikasikan sebagai begawan Maenako, yang melambangkan Bayu Langgeng yang berwatak hitam, warna hitam melambangkan batin dan pikiran yang gelap.

Nafsu Sufiah : Di Pesonnifikasikan sebagai Gajah Situbondo atau Bayu Kanitra yang berwatak kuning, melambangkan tendensi yang bisa menyebabkan seorang bisa menjadi lemah dan cepat lupa.

Nafsu Amarah : Di personofikasikan sebagai raksasa Joyorekso atau Bayu Anras yang berwatak merah, melambangkan kecenderungan merusak, membakar hati dan pikir.

Nafsu Muthmainah : Di personifikasikan Sebagai Resi Hanoman atau Bayu Kinara yang berwatak putih, melambangkan sifat membimbing, mensucikan dan menuntun.

Sementara Bima sendiri di namakan sebagai Bayu Mangkurat dalam hubungannya dengan nafsu – nafsu tersebut, sebagai jagad kecil, Bima berisi empat unsur nafsu yang disebut nafsu mulhimah.

Fragmen – fragmen dalam serat dewaruci ini ada kemiripan dengan manthiq Ath -Thair (percakapan burung – burung) dari penyair sufi Fariduddin Aththar, yang di gubah oleh Sunan Kalijaga setelah menerima pengaruh dari Tabriz, Rumi dan Aththar (Widji saksono 1995:147-148).

Menurut beberapa penulis sejarah Sunan Kalijaga, Serat Dewaruci ini bukan murni karya Sunan Kalijaga tetapi merupakan pengembangan dari kitab – kitab yang lebih kuno lagi seperti kitab Markandeya dari india, Kitab Nawaruci dari abad hindu pertengahan dan kitab Dewaruci versi asli karya Mpu Widhayaka dari Mamenang yang hidup pada masa akhir kejayaan hindu di jawa.

Serat Dewaruci sangat populer dimasyarakat karena banyak penulis yang menerbitkan buku mengenai serat Dewaruci meskipun dengan versi, pandangan dan pemahaman yang berbeda – beda, juga kisah dewaruci banyak di angkat di setiap pertunjukan wayang oleh para dalang wayang kulit di tanah jawa.

Kandungan dari Suluk Linglung

Tidak seperti Serat Dewaruci yang sudah di kenal di masyarakat, kitab suluk linglung tidak terlalu di kenal karena di samping isinya hampir sama dengan kitab dewaruci, kitab ini juga belum lama di terbitkan. Kitab ini di tulis oleh Sunan Kalijaga pada masa menjelang akhir hayatnya, setelah itu kitab itu di bungkus dengan kain putih beliau kemudian berpesan pada salah satu putranya agar benda tersebut di simpan baik – baik dan terus dan di wariskan kepada generasi selanjutnya secara turun temurun untuk menjaga benda pusaka itu, akan tetapi Sunan Kalijaga sendiri tidak pernah mengatakan kepada ahli waris nya bahwa itu adalah sebuah kitab.

Begitu seterusnya sampai pada akhir abad ke 20 kitab tersebut akhirnya jatuh ke tangan salah seorang keturunan Sunan Kalijaga ke -14 yang bernama R.Ay. Supartini Mursidi. Singkat kisah buku ini di berikan kepada seorang penulis yang bernama Drs Muhamad Khafid Kasri yang merasa mendapat petunjuk ghaib bahwa R.Ay. Supartini menyimpan warisan kitab dari Sunan Kalijaga berupa kitab kuno bertuliskan huruf arab gundul berbahasa jawa.

Pada tahun 1993 kitab suluk linglung di terbitkan oleh balai pustaka dengan judul suluk linglung Sunan Kalijaga (Syekh Melaya), tetapi setelah diamatiĀ  buku suluk linglung terbitan balai pustaka itu adalah karangan Iman Anom tahun 1806 saka atau 1884 Masehi, dan bukan tulisan Sunan Kalijaga yang asli. Iman Anom adalah seorang pujangga dari Surakarta yang masih keturunan Sunan Kalijaga, Iman Anom menulis kitab suluk linglung dari kitab duryat yang di wariskan secara turun – temurun oleh keluarga Sunan Kalijaga.

Jadi di sini ada dua buah kitab suluk linglung yaitu yang di tulis Iman Atom yang berjudul Suluk linglung Sunan Kalijaga (Syekh Melaya) dan kitab asli yang disimpan oleh R.Ay. Suparto Mursidi berjudul Suluk Linglung saja. Akan tetapi sebenarnya antara buku kitab Suluk Linglung terbitan Balai Pustaka dan Kitab Suluk Linglung yang di terjemahakan oleh Drs Muhamad Khafid Kasri yang diterima dari R.Ay. Supartini meskipun ada perbedaan tetapi perbedaannya tidak terlalu mendasar sehingga tidak akan di jelaskan secara terperinci di sini.

Kitab Suluk linglung di bagi menjadi 6 episode :

  1. Episode I berjudul Brahmana Ngisep Sari (kumbangĀ  menghisap madu), terdiri 8 bait pupuh dhandhanggula
  2. Episode II berjudul Kasmaran Branta (Rindu Kasih Sayang), terdiri atas 23 bait Pupuh Asmaradhana
  3. Episode III tidak berjudul (kemungkinan masih menjadi bagian dari episode sebelumnya)
  4. Episode IV berjudul Sang Nabi Hidir (Sang Nabi Khidir), terdiri atas 26 bait Pupuh Dhandhanggula
  5. Episode V tidak berjudul terdiri atas 27 bait Pupuh Kinanthi
  6. Episode VI tidak berjudul terdiri atas 52 bait Pupuh Dhandhanggula

Dari enam episode itu, Sunan Kalijaga menulis riwayat hidupnya ke dalam tiga bab, ketika masih belajar agama islam, lalu jatuh cinta kepada ajaran islam, pertanyaan yang tidak bisa di jawab gurunya sehingga dia menjadi bimbang (linglung) dan bab terakhir yang menguraikan ajaran nabi Khidir yang merupakan bab yang terpanjang dari keseluruhan isi kitab suluk linglung.

Wejangan Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga

Isi dari wejangan dari Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga yang di tuangkan sebanyak 105 bait tembang, isi wejangan ini adalah khas dari ajaran sufi yang sulit dipahami oleh orang awam tanpa penjelasan dari seseorang yang paham sufi, berikut beberapa diantara wejangan yang masih mudah di pahami :

  1. Jika seseorang akan melakukan ibadah haji, maka harus mengetahui tujuan berhaji yang sebenarnya, sebab kalau tidak akan sia – sia saja, itulah yang dinamakan iman hidayat.
  2. Sebelum seseorang melakukan sesuatu, hendaknya di teliti agar tidak tertipu oleh nafsu, supaya tetap dalam jati diri yang asli (pancamaya). Penghalang tingkah laku menuju kebaikan ada tiga golongan, dan siapa berhasil menjauhi penghalang tersebut akan berhasil menyatukan dirinya dengan yang gaib, yang di maksud penghalang adalah marah, sakit, angkara murka, sombong dan semacamnya.
  3. Orang islam adalah pewaris atau penerus ajaran Nabi Muhammad Saw, oleh karena itu harus melestarikan dan memperjuangkan ajarn tersebut.
  4. Tanda – tanda adanya Allah itu ada pada diri manusia sendiri. Hal ini harus di renungkan dengan betul. Orang yang suka membicarakan dan memuji dirinya sendiri akan dapat melemahkan semangat usahanya.
  5. Semua garis hidup manusia telah di tentukan di dalam johar awal lalu kalau begitu mengapa manusia di wajibkan shollat sewaktu hidup di dunia ? jawaban nya karena di sesuaikan dengan ketentuan dan kegaiban yang di tentukan di zaman azali. berdiri tegak sambil sedekap adalah untuk menciptakan keheningan hati, lalu menyatukan konsentrasi dan menyatukan segala gerakan dan ucapan
  6. Rukuk berarti tunduk kepada yang Maha Pencipta, merasa sedih dan malu sampai sang pencipta muncul, lalu keluar air mata sehingga tenanglah kehidupan manusia yang melakukan rukuk.
  7. Gerakan sujud dalam shollat bermula dari munculnya cahaya yang menandakan pentingnya sujud ke permukaan bumi. Adanya cahaya tersebut, manusia merasa berhadapan dengan dengan wujud Allah SWT sehingga orang yang sujud yakin dengan bahwa Allah SWT melihat dirinya.
  8. pada saat duduk diantara dua sujud, seolah-olah orang sedang bimbang menunggu kedatangan Allah. Walaupun tidak nampak datang sesungguhnya Allah benar – benar ada dan Dia lah satu – satunya tempat mengabdi. Sekali-kali jangan ada manusia yang menganggap dirinya sama dengan tuhan.
  9. Tidak ada manusia yang dapat menyamai Nabi Muhammad Saw, karena beliau adalah makhluk pilihan yang di muliakan Allah SWT, yang selalu di karuniai dengan pengetahuan rahasia.
  10. Akan di muliakan oleh Allah Swt manusia yang mau mengeluarkan shodaqoh, yang melakukan ibadah haji yang rajin melaksanakan sholat.
  11. Manusia bukan yang paling mulia di antara ciptaan Allah Swt, dan harus di pahami bahwa isi jagad ini bukan hanya manusia, tetapi manusia di tugaskan menjadi khilafah.
  12. Semedi mestinya sebagai ragi, sedang ilmu sebagai pendukung. Semedi tanpa ilmu tidak akan berhasil, sedang ilmu tanpa semedi akan hambar yang juga tidak memberi hasil.

Demikian beberapa isi wejangan dari suluk linglung, sebenarnya kitab suluk linglung di tulis Sunan Kalijaga sebagai perwujudan keresahan beliau karena pertanyaan beliau mengenai “sukma luhur yang disebut iman hidayat dan berserah diri kepada Allah SWT”, juga pertanyaan kedua beliau tentang apa maksudnya, “ada nama tanpa sifat, ada sifat tanpa makna”, tidak bisa di jelaskan dengan sejelas – jelasnya oleh guru beliau yaitu Sunan Mbonang, oleh karena itulaha beliau melakukan perjalanan jauh ke hutan, singkat cerita sampailah akhirnya Sunan Kalijaga bertemu dengan Nabi Kidhir yang memberikan penjelasan dan menjawab pertanyaan pertanyaan beliau.

Beberapa ahli sejarah dan penulis berpendapat bahwa wejangan dalam suluk linglung ini sebenarnya adalah hasil perenungan Sunan Kalijaga sendiri sebagai bentuk keresahannya karena gagal mendapat penjelasan dari guru nya selama ini.

 

Advertisements
%d bloggers like this: