Demi masa, , ,

Tak berbekal pendidikan musik, bukan penghalang bagi Qutb al-Din al-Shirazi (1236-1311) untuk memberi sumbangsih pada bidang ini. Ia berhasil merumuskan notasi musik. Pembacaan Alquran secara berirama menginspirasinya merumuskan notasi itu. Ia mengaitkannya dengan ilmu tajwid yang biasa digunakan dalam membaca atau tilawah Alquran.

Dalam pengembangannya, notasi al-Shirazi berhubungan dengan sistem 17 notasi karya pakar musik lainnya, al-Urmawi. Ia menuliskannya dalam istilah bahasa Arab. Susunan notasi itu, misalnya, ia sebut sebagai mad atau bacaan yang dipanjangkan yang memperlihatkan seluruh notasi dalam sebuah baris harus dimainkan hingga akhir baris.

Waqf atau tanda berhenti yang digambarkan dengan tanda (ha) melingkar. Biasanya merupakan tanda berhenti dalam sebuah notasi. Ada pula istilah jahr yang dalam sistem notasi al-Shirazi diartikan sebagai nada tinggi dan suara terbuka lebar. Cendekiawan asal Turki Nihat Temel mengatakan, ilmu tajwid benar-benar melahirkan ide bagi al-Shirazi dalam menuliskan notasi.

Menurut dia, al-Shirazi menuliskan karyanya dalam bahasa Persia, namun sepenuhnya menggunakan istilah bahasa Arab. Dengan demikian, ujar Temel, ketika tajwid dengan benar dipraktikkan oleh seseorang secara jelas, terlihat adanya kesamaan dengan musik. Setiap ucapan waktu membaca kitab suci harus dilafalkan dengan baik sesuai tajwid.

Fazli Arslan dari Erciyes University, Turki, melalui tulisannya The Sound of Rules in Reading the Quran (Tajwid) in Qutb Al-Din al-Shirazifs Music Notation mengungkapkan, notasi yang ditulis al-Shirazi itu menjadi penanda awal inovasi musik Timur pada abad ke-13. Sebab, di masa itu belum pernah ada notasi yang mirip dengan milik al-Shirazi.

Bahkan, Arslan mengakui bahwa apa yang dirumuskan al-Shirazi melampaui temuan al-Urmawi. Pada masa selanjutnya, al-Kindi yang menyempurnakan temuan al-Shirazi ini dengan penggunaan abjad dalam baris notasi musik. Pakar musik dari Turki, Rauf Yekta mencatat bahwa notasi al-Shirazi sama dengan notasi modern.

Sejarawan Owen Wright, dalam bukunya The Model System of Arab and Persian Music, mengatakan, komposisi irama dalam notasi al-Shirazi senada dengan tangga nada masa kini. Dan, pakar lainnya, Popescu-v bn n Judetz menilai notasi yang ditulis al-Shirazi lebih terperinci dibandingkan notasi yang dibuat al-Urmawi.

Notasi al-Shirazi pun dinilai mempunyai ciri khas, yaitu adanya nada berulang. Sementara di Barat, notasi musik pertama kali digunakan pada masa Giovanni Gabrieli yang meninggal dunia pada 1612. Pada abad ke-17, Barat baru mengenal notasi musik secara luas. Salah satunya seperti yang terlihat dalam karya tersohor Gabrielli Sacrae Symphoniae (1597). Dia menggunakan sonata serta nada forte dan piano.

Komposisi musik Giulio Caccini yang tercipta pada 1590 dan 1602 menunjukkan penggunaan tangga nada serupa. Masa keemasan musikus Haydn, Mozart, dan Beethoven melambungkan notasi musik tersebut.

Meski dikenal sebagai pencetus notasi, nyatanya al-Shirazi tidak mengenyam pendidikan dasar bermusik. Cendekiawan yang lahir di Shiraz, Iran, ini tumbuh di tengah keluarga yang berlatar pendidikan medis.

Sang ayah yang bernama Zia al-Din Masfud Kazeruni sangat masyhur sebagai seorang ahli fisika dan dokter, sekaligus seorang pemimpin sufi Kazeruni. Dia dikenal sebagai dokter mata di Rumah Sakit Muzaffar.

Bukan hanya dalam musik ia menelurkan karya. Al-Shirazi pun membukukan karya dalam bidang lainnya, seperti matematika. Ia menulis tentang geometri dalam bahasa Persia yang dituangkan dalam 15 bab.Sebagian besar buku ini berisi terjemahan dan karya al-Tusi. Ia menuntaskan karya ini pada November 1282. Ia juga menghasilkan karya lain, Risala fi Harkat al-Daraja.

Sedangkan, dalam geografi dan astronomi, al-Shirazi menghasilkan Ektiarat e-mozaffari. Ini merupakan risalah mengenai astronomi di Persia yang dituangkannya dalam empat bab dan diekstraksikan dari karyanya yang lain, Nehayat af-Edrak. Ia pun menulis kitab al-Tuhfat al-Shahiya yang diselesaikannya pada 1284.

Karya tersebut membahas tentang model pergerakan planet dan peningkatan pada prinsip Ptolemeus. Ia menulis -kan juga pemikiran-pemikiran filsafatnya. Buku paling terkenalnya adalah Durrat al-Taj Iighurratt al-Dubaj yang ditulis dalam bahasa Persia. Kitab itu merupakan sebuah ensiklopedia filsafat yang ditulis untuk Rostam Dabbaj, penguasa tanah Gilan di Iran.

Kitab itu juga membahas pandangan filosofis tentang Imu alam, teologi, logika, urusan publik, etnis, mistik, astronomi, matematika, aritmatika dan musik. Sebagai seorang dokter, ia tergelitik menyampaikan pandangan-pandangannya dalam sebuah karya. Ia menuliskan komentar-komentarnya tentang Canon of Medicine.

Al-Shirazi mengenyam pendidikan teologi, kedokteran, dan sufisme. Sepeninggal ayahnya, dia mulai berkarier di rumah sakit di mana sebelumnya ayahnya bekerja. Ia sudah merintisnya sejak berumur 14 tahun. Untuk memperdalam kemampuannya di bidang kedokteran, Ia berguru pada sejumlah dokter senior.

Misalnya, Kamal al-Din Abul Khayr, Sharaf al-Din Bushkani Zaki, dan Shams Al-Din Mohammad Kishi. Ketiganya merupakan dokter yang menguasai buku Canon of Medicine karya ilmuwan Muslim legendaris, Ibnu Sina. Al-Shirazi kerap berdiskusi dengan gurunya untuk membahas berbagai kesulitan yang dihadapinya dalam belajar.

Sebagai seorang ilmuwan, Shirazi pun berhasil menguasai buku Canon of Medicine dan memberi komentar atas karya Ibnu Sina yang dikenal sebagai dokter agung itu. Ia terinspirasi untuk memberi komentar terhadap hasil karya Ibnu Sina itu setelah membaca komentar Fakhr al-Din Razi pada Canon of Medicine.

Satu dekade kemudian, dia pindah ke Maragha untuk bergabung dengan kelompok studi Nasiruddin al-Tusi. Al-Tusi dikenal sebagai pakar astronomi dan mendirkan observatorium di Maragha. Al-Shirasi meninggalkan Shiraz pada 1260 dan tiba di Maragha sekitar 1262. Selain belajar, ia memutuskan bekerja di observatorium al-Tusi.

Saat bekerja di observatorium, ia juga memperdalam astronomi. Salah satu proyek ilmiah penting yang turut diselesaikannya bersama al-Tusi adalah pembuatan tabel astronomi baru dalam buku Astronomi Zij. Pada surat wasiatnya, al-Tusi memberi nasihat kepada putranya, Sil-a-Din, untuk bekerja dengan Shirazi dalam menyelesaikan Tabel Zij.

Dari Maragha, ia meneruskan perjalanan ke Khurasan untuk belajar kepada Najm al-Din Katebi Qazvini, di Kota Jovayn. Ia pun menjadi asisten sang guru. Beberapa saat setelah 1268, ia bepergian ke Qazvin, Isfahan, Baghdad, untuk menimba dan menyebarkan ilmu di Madrasah Nizamiyah. Kemudian di tiba di Konya, Anatolia. Ia bertemu dengan Maulana Jalaluddin Rumi.

Pertemuan berlangsung pada pertengahan 1271 di Konya, Turki. Ia sempat pula menjadi hakim Malatya. Dengan ilmunya yang luas, ia sempat mengajar di sebuah madrasah di sana. Dan, ia menghabiskan akhir masa hidupnya di Tabriz.

Sejarawan Ibrahim Kafesoglu mengelompokkan al-Shirazi sebagai filsuf dan ahli astronomi terkemuka. Tak hanya itu, al-Shirazi disebut sebagai ilmuwan hebat dan negarawan di masa Pemerintahan Seljuk. Kendalannya terlihat dari buku-buku yang ditulisnya. Salah satunya terkait dengan teori bermusik dan seni pertunjukan. Ahli sejarah lainnya, Osman Turan menegaskan jika karakteristik para ilmuwan tak lepas dari musik, termasuk pada diri al-Shirazi.

Selain berprofesi sebagai hakim, al-Shirazi masyhur di bidang filsafat, astronomi, dan geografi. Di samping itu, dia mahir bermain catur dan rebab. Lebih jauh, ia dengan baik menyampaikan materi al-Qanun karya Ibnu Sina.

 

 

Advertisements

Syair Al Hallaj

Pada saat akan menjalankan hukuman, Al Hallaj di keluarkan dari penjara, banyak orang yang menyaksikan peristiwa tersebut termasuk kaum sufi yang pada masa khalifah Al Muqtadir dianggap kaum oposisi terhadap kerajaan yang hanyut dalam kemewahan, di antara mereka tampak Abu Bakar Al Syibli dan Abill Hasan Al Wasithi, pada saat akan di pancung Al Hallaj bertanya ke Al Syibili “adakah kau membawa sajadah?”. “Ada”, jawab As Syibili.

Beliau lalu membentangkan sajadah dan shalat dua rakaat, usai shalat Al Hallaj Melantunkan sebuah syair :

“Aku mmencari tempat ketentraman di atas bumi

Tahulah aku, bukan di bumi tempat ketentraman

Kuikuti saja kehendak mauku

Akupun di perbudak oleh nya

Kalau kucukupkan yang ada

Akupun merdekalah”

Mendengar lantunan syair tersebut, murid  murid Al Hallaj yang hadir menyaksikan hukuman tersebut serta merta berlinangan air mata, Al Hallaj melanjutkan senandungnya ;

“Aku tidak serahkan diriku memikul kesakitan

Hanyalah kutahu bahwa maut jualah yang akan menyembuhkan aku

Satu pandangan daripada engkau

Wahai tempatku bermohon himpunan cita – citaku

Lebih nyaman bagiku daripada dunia sekaligus isinya

Jiwa yang sedang menderita, sabar menderita

Semoga yang menjemput, dia sendiri yang mengobati”.

(Prof. DR. Hamka;Tasawuf dan pemurniannya)

%d bloggers like this: