Demi masa, , ,

Lubang Surga

Seperti biasa selepas sholat maghrib, Paijo sedang berdiskusi dengan Pak Haji di serambi Mushala Al-hikmah tentang berbagai fenomena yang sedang terjadi di masyarakat.

Pak Haji : Jo hari ini amalan apa yang sudah kamu perbuat ?

Paijo : (sambil menerawang) Shalat lima waktu, dzikir, shalat dhuha, baca…

Pak Haji : Bukan Jo, bukan itu (potong pak haji). Maksudnya amalan kamu yang bisa membuat Perbedaan dan perubahan bagi orang – orang dan lingkungan sekitar kamu, kalau cuma Shalat, dzikir itu kan untuk kepentingan kamu sendiri.

Paijo : (mengernyitkan dahi0 saya ndak tahu pak haji ?

Pak Haji : he..he udah cobain lubang sorga belum, ?? coba deh sempit dan enaaakk.. ha..haa…haa.

Paijo : haa.. apaan itu pak Hajii ??!! (sambil terbengong). Wah jangan – jangan ??Astaghfirullah Pak Haji istighfar pak Haji, istighfar !!!

Pak Haji : ha.ha .haa (sambil tertawa lebar ) ya istighfar itu perlu, tapi jangan heboh gitu Emang yang ada di otak kamu itu apa ?? lha wong lubang surga yang sempit Dan enak itu ada di mushala – mushala dan mesjid koq, itu lho kotak amal -Kotak amal itu lho, itu kalau kamu masukin infaqnya semakin banyak kan lubang nya, makin berasa sempit, insya Allah kalau kamu ikhlas ganjaran nya pahala dan surga kan enak tuhh.. dasar anaka sekarang ngeress aja mikirnya.. Istighfar !!

Paijo : hee.hee..hee

Pardi                      : Apa sih yang di cari oleh orang – orang modern sekarang ini ?

Dulkamdi             : Ya kalau tidak nama besar, kedudukan, harta, kemewahan, kemolekan, gengsi, cewek,  ya apa lagi ?

Pardi                      : Lhah, kamu emang sudah pernah survey ?

Dulkamdi             : Ya sudah donk ,,,”

Pardi                      : Kapan ?

Dulkamdi             : Sudah lama suda lama Di ? system survey saya ini kan tidak pakai pendekatan orang modern tapi pakai pendekatan Imam Ghazaly.

Pardi                      : Gimana ?

Dulkamdi             : Gampang, saya sudah dapat ilmunya sepuluh tahun lalu, ingat halaqoh dari kiai Mursyid “Apabila dirimu ingin meraih kemuliaan yang tak pernah sirna, maka jangan lah berusaha mendapatkan kemuliaan yang sirna”.

Tiba – tiba Pardi Bangkit

Pardi                      : Dul kamu benar!

Dulkamidi            : Memang kenapa ?

Pardi                      : Hasil survey mu itu lho…

Dulakamdi           : Memang kamu ngerti dari mana?

Pardi                      : Kalau saya pakai metode Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab At-tanwir di sebutkan, “Jika anda meraih kemuliaan bersama Allah, maka abadilah kemurahanmu, tetapi jika meraih kemuliaan tanpa Allah maka tiada abadi atas kemulian mu”.

Syekh Muttamakin

Syekh Al Muttamakin

Syekh Al-Muttamakin merupakan seorang ulama besar yang cukup di segani pada abad ke 17M. Ia adalah putra dari pangeran Benowo II, dikenal punya banyak karomah di antaranya di mapu berbicara dan bersahabat dengan bangsa Jin.

Ada salah satu kebiasan aneh dari Syekh Al- Muttamakin yang bukan kebiasan para ulama, yaitu memelihara dua ekor anjing dan dua ekor anjing itu di beri nama sesuai dengan nama dua pejabat di desanya, akan tetapi karena Syekh Al-Muttamakin adalah keturunan dari raja Pajang maka meski marah kedua pejabat itu tidak berani melawan.

Pada suatu hari, tepatnya pada hari Idul Adha kurang dari satu bulan, Sekh Al-Muttamakin ingin pergi haji ke Mekkah, namun tidak punya waktu panjang, jika harus naik kapal maka akan makan waktu yang lama, maka jalan satu –satunya harus menggunakan jasa Jin agar cepat sampai. Niatan itu terkabul, salah satu jin dari sekian ratus muridnya bersedia mengantarkan pulang pergi dari Tuban ke Mekkah.

Berangkat dia ke Mekah, disana Syekh Al –Muttamakin berhasil menjalankan ibadah Haji dengan baik, setelah selesai dia pulang kembali ke Tuban, dengan diantar Jin muridnya, akan tetapi ternyata di tengah laut dia di ceburkan oleh jin itu, dia tidak bisa berbuat apa-apa dan baru menyadari bahwa sifat jin itu lebih buruk dari manusia.

Lalu ditengah lautan itu tiba-tiba muncul ikan Meladang yang kemudian menolongnya bahkan di antar sampai ke tepi pantai Kajen Pati. Di tepi pantai itu dia menetap untuk sementara, untuk kebutuhan minum, wudhu dan mandi ia membuat kubangan air yang sekarang menjadi sumur selang, beberapa bulan kemudian dia pindah ke desa Bulu Manis, Kec,, Margoyoso, pati  di sini dia membuat sumur yang kemudian di kenal sumur KH Muttamakin.

Kemudian Syekh Al-Muttamakin pindah lagi ke desa Cebolek untuk mendirikan pesantren, kemudian dia pindah lagi ke Desa Kajen karena diambil mantu oleh KH Samsudin, di sini syekh Al-Muttamakin sering berzikir dan menyendiri pada waktu tertentu, karena sifat ramah dan zuhudnya beliau di sukai oleh banyak orang dan mempunyai santri yang berdatangan dari berbagai daerah di tanah jawa untuk belajar ilmu tasawuf darinya.

Karena Ketinggian ilmu nya namanya semakin terkenal dikalang masyarakat keraton Surakarta Hadiningrat. Ia di anggap sebagai ulama tasawuf yang bijaksana. Syekh Al-Muttamakin pernah di tuduh menyebarkan ajaran sesat sehingga dia pernah di sidangkan, akan tetapi dalam persidangan itu dia berhasil membuktikan bahwa ajarannya tidak sesat.